Kamis, Oktober 23

Ma'rifatul Rasul

Kebutuhan Manusia Kepada Rasul
Definisi Rasul


Rasul adalah Lelaki yang diutus Allah dengan risalah Islam kepada manusia.(QS.33:39)
Rasul sebagai pembawa risalah & teladan pelaksanaan risalah.

Tanda-tanda kerasulan:
  1. Sifat Rasul (akan dibahas pada subbab selanjutnya)
  2. Mu'jizat
  3. Berita Kedatangan
  4. Berita Kenabian
  5. Hasil Perbuatan
Sifat-Sifat Rasul
  • Manusia Sempurna
  • Ishmah (terjaga dari dosa)
  • Shiddiq ( Berbicara & perbuatan sama)
  • Fathonah (Cerdas)
  • Amanah
  • Tabligh
  • Komitmen
Kekhususan risalah Muhammad Saw.
  • Penutup para nabi
  • Penghapus risalah sebelumnya
  • Membenarkan syariat para nabi sebelumnya
  • Menyempurnakan risalah sebelumnya
  • Untuk semua manusia
  • Rahmat semesta alam
Kewajiban Terhadap Rasul
  • Mengimani
  • Menghidupkan sunnahnya
  • Memperbanyak shalawat
  • Mengagungkan
  • Mengikutinya
  • Membela
  • Mewarisi risalahnya
  • Mencintai para pencintanya



Keumaan Shalat Tahajud

Di antara ajaran Rasulullah SAW yang paling dianjurkan adalah shalat Tahajud. Sehingga, dalam literatur fikih Islam, shalat Tahajud diberi hukum sunah muakkadah (sangat dianjurkan).


Shalat Tahajud ini dilakukan pada malam hari setelah shalat Isya dan disyaratkan tidur terlebih dahulu. Pelaksanaan Tahajud itu sendiri dikaitkan dengan waktu yang utama, yaitu sepertiga malam terakhir. Bahkan, ada yang menyebut waktu shalat Tahajud adalah di saat ketika kita dapat mendengar suara jarum yang jatuh di atas lantai.


Allah SWT berfirman, ''Dan di antara waktu malam, maka bertahajudlah sebagai (ibadah) kesunatan bagimu, semoga Tuhan mengangkatmu ke derajat yang mulia.'' (Al-Israa': 79).


Untuk melaksanakan shalat Tahajud memang merupakan perjuangan yang sangat berat. Apalagi ia dilaksanakan pada waktu manusia sedang enak-enaknya tidur, dalam udara yang dingin, bahkan harus perang melawan nafsu dan setan yang akan selalu membisikkan untuk tidur lelap. Namun, Allah Maha Mengetahui setiap ibadah hamba-Nya dan Maha Penyayang terhadap usaha taqarrub kepada-Nya, Dia memberikan fadhilah (keutamaan) yang besar kepada siapa saja yang melakukan ibadah sunah ini, yaitu derajat yang mulia, baik di dunia ini maupun di hadapan-Nya nanti, sebagaimana tersirat dalam ayat di atas.


Sebuah hadis qudsi tentang fadhilah Tahajud ini, sebagaimana diriwayatkan Bukhari, Muslim, Malik, Turmudzi, dan Abu Dawud, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Tuhanmu yang Maha Pemberi Berkah dan Maha Mulia, selalu turun ke langit dunia setiap malam, pada paruh waktu seperti tiga malam terakhir, dan Dia berfirman, 'Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, barangsiapa mengajukan permintaan kepada-Ku akan Aku berikan, dan barangsiapa memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni'.''


Mahasuci Allah. Itulah tiga keutamaan shalat Tahajud dan ketiganya pula merupakan harapan setiap hamba. Setiap hamba pasti berharap doanya terkabul, permintaannya diberikan, dan dosa-dosa diampuni. Mustahil bagi seorang hamba berharap bahwa setiap doanya ditolak, permintaannya diabaikan, dan dosa-dosanya terus menumpuk.


Alangkah indahnya jika setiap kita umat Islam bisa mengumandangkan adzan, lalu shalat Tahajud, dan kemudian dilanjutkan dengan doa. Doa untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa, meminta rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, serta kehidupan yang baik (hasanah). Kita memohon ampun setiap dosa yang kita sengaja maupun tidak sengaja, dengan segala pengakuan khilaf kepada Rabb yang Maha Pengampun.


Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah pendiri langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Raja langit dan bumi, serta segala yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah cahaya langit dan bumi, serta segala yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau-lah al-Haq, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, surga dan neraka-Mu adalah benar, para nabi-Mu adalah benar dan Muhammad SAW adalah benar serta hari kiamat adalah benar. Wallahu a'lam.

Mengapa sHoLat wajib lima waktu?

Lalu Rasullullah S.A.W. bersabda: ‘Silakan bertanya.’ Berkata orang Yahudi: ‘Sila terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang
diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.’ Sabda Rasullullah S.A.W. : ‘Sembahyang Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah
segala sesuatu kepada tuhanNya, Sembahyang Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi, Sembahyang
Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam A.S., maka setiap mukmin yang bersembahyang Maghrib dengan ikhlas
kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya.‘
Sembahyang Isya’ itu ialah sembahyang yang dikerjakan oleh para Rasul-Rasul sebelumku, Sembahyang Subuh adalah sebelum
terbit matahari, ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya tiap orang kafir.’

Selasa, Oktober 21

Keutamaan sHalat dhuha

Keutamaan Dhuha

Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya.

Pada waktu itulah Allah swt sangat memperhatikan hambaNya yang paling getol mendekatkan diri kepadaNya. Ditengah malam yang sunyi, dimana orang-orang sedang tidur nyenyak tetapi hamba Allah yang pintar mengambil kesempatan disa’at itu dengan bermujahadah melawan kantuk dan dinginnya malam dan air wudhu’, bangun untuk menghadap Khaliqnya, tidak lain hanya untuk mendekatkan diri kepadanya.
Demikian juga dengan waktu dhuha, dimana orang-orang sibuk dengan kehidupan duniawinya dan mereka yang tahu pasti akan meninggalkannya sebentar untuk
kembali mengingat Allah swt, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).

Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:35). Diakhir ayat ini terlihat Allah menyatakan kata “beruntung” bagi hambanya yang suka
mendekatkan diri kepadanya. Nach.. kalau bicara tentang beruntung tentu ini adalah rejeki bagi kita. Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa rejeki itu bukan hanya bentuknya materi atau uang belaka. Tetapi lebih dalam dari itu, segala sesuatu yang diberikan kepada kita yang berdampak kebaikan kepada kehidupan kita didunia dan diakhirat adalah rejeki. Dan puncak dari segala rejeki itu adalah kedekatan kepada Allah swt dan tentu kalau berbicara ganjaran yaitu kenikmatan puncak yang paling akhir adalah syurga. Oleh karena itu para ulama mengajarkan kita untuk berdo’a tentang rejeki ketika selesai shalat dhuha. Jadi salah satu fadilah (keutamaan) dari shalat dhuha itu adalah sarana jalan untuk memohon limpahan rejeki dari Allah swt.

Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).

Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat dhuha ini adalah salah amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra:
“Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).
Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk
tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.

Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan ridhoNya meninggalkan shalat dhuha karena kesibukan duniawi kita kecuali karena kelalaian dan kebodohan kita sendiri.

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA “

“ KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA “
Oleh : H. Sunaryo A.Y.

Shalat Dhuha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Matahari

sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau

sekitar setinggi satu tombak yaitu antara pukul 07.00 pagi sampai masuk

waktu Dzuhur, ( sekitar pukul 11.00 siang ).
Adapun dalil Shalat Sunnat Dhuha adalah sabda Rosulullah SAW

dalam beberapa Hadist dari Sahabat Abu Huraira ra antara lain sebagai

berikut :
• Bersabda Rosulullah SAW :
“ Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng, akan di

ampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan. “

( HR Tirmidzi )
• Nabi Muhammad SAW bersabda :
“ Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, maka

tatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : “ Siapakah orang yang

suka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamu

sekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT. “ ( HR Thabrani )
• Abu Hurairah ra pernah berkata :
“ Di perintahkan kepadaku oleh kekasihku Nabi SAW untuk berpuasa 3 (tiga

) hari pada tiap-tiap bulan, mengerjakan 2 ( dua ) rakaat Shalat Sunnat

Dhuha, dan supaya saya berwitir sebelum tidur.” ( HR Bukhari dan Muslim

)
• Dari Mu’im bin Hammar, bahwasanya Nabi SAW bersabda :
“ Tuhanmu yang Maha Tinggi telah berseru : “ Hai anak Adam ! Shalatlah

empat rakaat bagi Aku dari awal siang. Maka Aku akan cukupkan engkau di

akhir siang itu”. ( HR Ahmad dan Abu Daud )
• Dari Aisyah ra, ia berkata : “ Adalah Rosulullah SAW biasa Shalat

Dhuha 4 ( empat ) rakaat dan ia menambah ( sebanyak mungkin ) menurut apa

yang dikehendaki Allah SWT.” (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah )
• Dari Ummu Hani diceritakan, sesungguhnya ia pernah datang kepada

Nabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW

berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ke

tempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambil

pakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 (

delapan ) rakaat, yaitu Shalat Dhuha. ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun keutamaan ( fadhilah ) Shalat Sunnat Dhuha perhatikan

Hadist-Hadist Rosulullah SAW seperti berikut :
• Nabi Muhammad SAW bersabda :



“ Pada tiap pagi dianjurkan atas diri seseorang dari kamu untuk

bersedekah. Maka tiap-tiap tasbih itu sedekah dan tiap-tiap tahmid ( puji

) itu sedekah. Pada tiap-tiap tahlil pun sedekah dan tiap-tiap menyuruh

kepada kebaikan itu juga sedekah. Begitu pula mencegah kemungkaran itu

sedekah. Namun diantara semua itu cukuplah sebagai penggantinya ialah

mengerjakan dua rakaat Dhuha. “ ( HR Muslim dan Abu Dzar )
• Dari Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ia

pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda :
“ Dalam diri manusia itu ada 360 ( Tiga Ratus Enam Puluh ) ruas yang

setiap darinya diharuskan bersedekah. Para Sahabat bertanya : Kalau

begitu, siapa yang mampu berbuat demikian ya Rosulullah ? Rosulullah SAW

menjawab : “ Mengeluarkan dahak di Masjid lalu ditanamnya atau

menyingkirkan sesuatu gangguan dari jalan, itu juga sedekah. Tetapi kalau

engkau tidak bisa, kerjakanlah dua rakaat Dhuha. Karena itu mencukupi

dari semua itu “ ( HR Ahmad dan Abu Daud )
Saudaraku, sesama Muslim.
Begitu banyak fadhilah, keutamaan Shalat Sunnat Dhuha, seyogyanya sebagai

muslim yang baik tergerak hati kita untuk mengerjakan ( mengamalkan )

Shalat Sunnat Dhuha. Betapa tidak, kapan lagi kita akan mendapatkan

kesempatan untuk meraih, menggapai pahala untuk bekal akhirat kita ?

Hayo, saudaraku, jangan ragu dan bimbang lagi, mari dengan ikhlas kita

mengerjakan Shalat Sunnat Dhuha.

• Cara mengerjakan Shalat Dhuha.
1. Niat Shalat Dhuha :

2. Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah :
a. Pada rakaat pertama surat Asy-Syams.
b. Pada rakaat kedua surat Adh-Dhuha.
3. Selesai shalat, membaca do’a sebagai berikut :

“ Ya Allah, ya Tuhanku, bahwa kami waktu Dhuha itu milik Engkau dan

kebajikan ( kemewahan ) itu milik Engkau, dan keindahan itu milik Engkau

dan kekuatan itu milik Engkau dan kekuasaan itu milik Engkau dan

pemeliharaan itu milik Engkau. Ya Allah, Tuhanku, jika keadaan rezekiku

di langit, maka turunkanlah dan jika adanya didalam bumi maka

keluarkanlah dan jika adanya didalam air atau dilaut maka keluarkanlah ia

dan jika ia lambat, percepatlah dan jika ia sulit, gampangkanlah dan jika

ia haram, sucikanlah dan jika jauh, dekatkanlah ia dan jika sedikit,

perbanyaklah ia padaku dan jika banyak, berkahilah ia bagiku dan

sampaikanlah dimana saja aku berada. Janganlah Engkau pindahkan aku ke

tempat itu, dan jadikanlah tanganku diatasnya, untuk menjadi pemberi dan

janganlah tanganku dijadikan dibawah untuk jadi tukang minta.

Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan hak ( bekal )

Dhuha Engkau, kebagusan Engkau, keindahan Engkau, kekuatan Engkau,

kekuasaan Engkau dan pemeliharaan Engkau. Tiada daya dan kekuatan,

kecuali dengan pertolongan Engkau. Berilah aku apa yang Engkau engkau

kepada hamba-hamba Engkau yang soleh. Dan sampaikanlah shalawat kepada

Nabi Muhammad SAW dan keluarganya beserta para Sahabatnya. Semoga mereka

mendapat keselamatan dan segala Puji bagi Allah, Tuhan Seru Sekalian

Alam.”
Saudaraku, kerjakanlah Shalat Sunnat Dhuha setiap pagi, paling

sedikit 2 ( dua ) rakaat atau 4 ( empat ) rakaat atau 6 ( Enam ) rakaat

dan paling banyak 8 ( delapan ) rakaat.
****
( Bahan-bahan (materi) dikutip dari Buku “FIQIH” Oleh : Drs. H. Moh

Rifai, Untuk Madrasah Aliyah. Kurikulum 1984, Edisi 1991. Penerbit

“Wicaksana “ Semarang, buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” Oleh : Abdul Manan

[daarut-tauhiid] SHALAT BERJAMAAH

A Nizami
Tue, 14 Feb 2006 01:40:20 -0800

SHOLAT BERJAMAAH

a. Hukum Shalat Berjama'ah

Shalat berjama'ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap
mukmin laki-laki, tidak ada keringanan untuk
meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan
dalam agama). Hadits-hadits yang merupakan dalil
tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, Telah
datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam
seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, 'Wahai
Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku
ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan
dan cukup shalat di rumahnya.' Maka Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan
kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau
memanggilnya, seraya berkata, 'Apakah engkau mendengar
suara adzan (panggilan) shalat?', ia menjawab, 'Ya.'
Beliau bersabda, 'Maka hendaklah kau penuhi (panggilah
itu)'.
(HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata:
'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,
'Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah
shalat Isya' dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu
mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka
akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku
pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan
kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk
mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang
sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi
orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjama'ah,
dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu'.
(Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Darda' radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Aku
mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam
bersabda, 'Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di
suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak
dilaksanakan shalat berjama'ah, terkecuali syaitan
telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu
senan-tiasa bersama jama'ah (golongan yang banyak),
karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba
yang jauh terpisah (dari rombongannya)'.
(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits
hasan )

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi
wasallam bersabda, 'Barangsiapa mendengar panggilan
adzan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat
baginya, ter-kecuali karena udzur (yang dibenarkan
dalam agama)'.
(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, hadits shahih)

Dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu anhu, ia berkata,
'Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam
mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan
kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah
shalat di masjid yang dikuman-dangkan adzan di
dalamnya.
(HR. Muslim)

b. Keutamaan Shalat Berjama'ah

Shalat berjama'ah mempunyai keutamaan dan pahala yang
sangat besar, banyak sekali hadits-hadits yang
menerangkan hal tersebut di antaranya adalah:

Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma, bahwasanya
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,
'Shalat berjama'ah dua puluh tujuh kali lebih utama
daripada shalat sendirian.
(Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata,
'Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam,
'Shalat seseorang dengan berjama'ah lebih besar
pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat
di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat
sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang
di antara kamu telah berwudhu dengan baik kemudian
pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu
kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu
langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya
dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu
kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan
apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat
selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap
berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun
mengu-capkan shalawat kepada salah seorang dari kamu
selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat
berkata, 'Ya Allah, berilah rahmat kepadanya,
ampunilah dia dan terimalah taubatnya.' Selama ia
tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada
dalam keadaan suci'.
(Muttafaq 'alaih)

c. Berjama'ah dapat dilaksanakan sekalipun dengan
seorang makmum dan seorang imam Shalat berjama'ah bisa
dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam,
sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil
atau perempuan. Dan semakin banyak jumlah jama'ah
dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala.

Dari Ibnu Abbas radhiallaahu anhuma, ia berkata, 'Aku
pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu
istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam), kemudian
Nabi shallallaahu alaihi wasallam bangun untuk shalat
malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat
bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu
beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping
kanannya'.
(Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiallaahu
anhuma, keduanya berkata, 'Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa ba-ngun di
waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya,
kemudian mereka berdua shalat berjama'ah, maka mereka
berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu
berdzikir kepada Allah'.
(HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiallaahu anhu,
'Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam sudah shalat
bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda,
'Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan
menemaninya shalat.' Lalu berdirilah salah seorang
dari mereka kemudian dia shalat bersamanya'.
(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hadits shahih)

Dari Ubay bin Ka'ab radhiallaahu anhu, ia berkata,
'Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,
Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih
besar pahalanya dan lebih mensucikan daripada shalat
sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua
orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih
menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang
(berdua), dan semakin banyak (jumlah jama'ah) semakin
disukai oleh Allah Ta'ala'.
(HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits hasan)

d. Hadirnya Wanita Di Masjid dan Keutamaan Shalat
Wanita Di Rumahnya

Para wanita boleh pergi ke masjid dan ikut
melaksanakan shalat berjama'ah dengan syarat
menghindarkan diri dari hal-hal yang membangkitkan
syahwat dan menim-bulkan fitnah, seperti mengenakan
perhiasan, bersolek dan menggunakan wangi-wangian.
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda:

Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke
masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak
me-makai wangi-wangian.
(HR. Ahmad dan Abu Daud, hadits shahih)

Dan beliau juga bersabda:

Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian,
maka janganlah dia ikut shalat Isya' berjama'ah
bersama kami.
(HR. Muslim)

Pada kesempatan lain, beliau juga bersabda:

Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian,
kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak
diterima sehingga dia mandi.
(HR. Ibnu Majah, hadits shahih)

Jika salah seorang dari kalian (wanita) menghadiri
mesjid maka janganlah menyentuh wangi-wangian.
(HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid,
namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka.
(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Dalam sabdanya yang lain:

Shalat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya
lebih utama daripada di bagian tengah rumahnya dan
shalatnya di kamar (pribadi)-nya lebih utama daripada
(ruangan lain) di rumahnya.
(HR. Abu Daud dan Al-Hakim)

Beliau bersabda pula:

Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah
bagian paling dalam (tersembunyi) dari rumahnya.

Minggu, Oktober 19

Fenomena Aliran Sesat di Indonesia

Aliran sesat nampaknya seperti tak habis-habisnya bermunculan di tanah air. Apa factor penyebabnya. Dan bagaimana langkah mengantisipasinya?

Lia Aminudin yang mengaku sebagai pemimpin “Jemaat Tahta Suci Kerajaan Eden" bersama beberapa pengikut dekatnya terpaksa rela tidak menyaksikan keramaian pergantian tahun 2005-2006. Pasalnya, mereka tengah berada di Markas Polda Metro Jaya. Pada mulanya, Jumat (30/12/2005), aparat kepolisian mengevakuasikan mereka ke Mapolda Metro Jaya dalam rangka pengamanan dari kemungkinan tindakan anarkis amuk massa yang tengah mengepung rumah kediaman Lia Aminudin di Jalan Bungur, Kelurahan Senen, Jakarta Pusat.

Keesokan harinya, Lia Aminudin dan 32 orang pengikutnya ditetapkan sebagai tersangka pelaku tindak pidana penodaan terhadap agama. Mereka dijerat dengan pasal 154 KUHP Mereka telah ditahan di Mapolda Metro Jaya.

Hal itu disampaikan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Firman Gani, setelah Lia Aminudin diperiksa secara intensif sejak malam itu. Kapolda mengharapkan, masyarakat memberikan kesempatan kepada Lia Aminudin dan pengikutnya untuk membuktikan di pengadilan bahwa kegiatan mereka itu tidak melanggar hukum.

Menurut salah seorang peserta amuk massa yang berkumpul di depan rumah Lia Aminudin, ajaran Lia membuat resah masyarakat khususnya umat Islam. Karena, Lia yang mengaku sebagai Malaikat Jibril, Rohul Kudus, sempat mengancam akan mencabut nyawa para ulama bila mereka tetap menggelar tablig akbar (untuk menentang ajarannya dan membongkar kedoknya sebagai Jibril palsu), seperti yang dilakukan di sebuah masjid di Bungur, Jakarta Pusat, tak jauh dari tempat tinggal kelompok "Kerajaan Eden" ini.

Jauh sebelumnya, pada 22 Desember 1997 Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwayang mengecam Aliran Salamullah, aliran pimpinan Lia Aminudin sebelum berganti logo menjadi 'Jemaat Tahta Suci Kerajaan Eden". Ajaran Lia Aminudin yang mengaku dibai'at Malaikat Jibril sebagai "Imam Mahdi" dinilai sesat karena bertentangan dengan Al Quran.

Saat itu, Lia Aminudin tak hanya mengaku sebagai Imam Mahdi, Lia juga membaiat anaknya yang bernama Ahmad Mukti sebagai Nabi Isa. Perjalanan Lia Aminudin telah dituangkannya ke dalam sebuah buku berjudul Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir. Dalam buku itu dikisahkannya pengembaraannya bersama Jibril, plus kesaksian para pengikutnya. "Buku ini saya tulis dalam tempo sebulan. Semuanya dituntun oleh Jibril," kata Lia Aminudin enam tahun silam.

Subur di mana-mana

Fenomena aliran sesat yang mengatasnamakan Islam, belakangan ini semakin berkembang dan semakin subur saja di tanah air ini. Pada beberapa bulan yang lalu, terjadi bentrokan antara Front Pembela Islam (FPI) dengan jamaah Ahmadiyah. Karena aliran Ahmadiyah ini mengaku pendiri dan gurunya, Mirza Ghulam Ahmad, asai India, sebagai nabi.

Aliran sesat muncul di berbagai daerah dengan fenomena masing-masing. Seperti dikatakan KH Ma'ruf Amin, berdasarkan temuan MUI, aliran sesat ini tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mereka mengindentifikasikan sebagai kelompok musiim atau Islam. Tetapi ajaran-ajaran yang mereka lakukan bertentangan dengan syariat Islam.

Mengantisipasi maraknya berbagai aliran sesat ini, Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) mengingatkan agar umat Islam perlu menyikapinya dengan benteng iman yang kuat. Karena sempalan Islam beraliran sesat ini, sengaja atau tidak sengaja atau tidak sengaja memberikan pemahaman yang salah dan keliru terhadap Islam. Tujuannya untuk menyesatkan umat Islam, sekaligus hendak meruntuhkan dan menghancurkan akidah umat Islam.

Kategori sesat

Lalu bagaimana sebuah ajaran atau aliran dapat dikategorikan sesat? Sebuah aliran disebut sesat bila apayang diajarkan itu telah menyimpang dari aturan baku ajaran agama. Pinjam kata-kata Ketua Dewan Fatwa MUI, KH. Ma'ruf Amin, "di luar kesepakatan wilayah perbedaan dan melenceng di luar manhajyang shahih."

Jadi ketika ada orang yang mengaku pembaru Islam dan ia menyatakan shalat lima waktu itu tidak wajib, atau boleh dilakukan tidak dengan bahasa Arab, makaia dapat disebut sesat. Begitu pula ketika ada orang yang mengaku Islam tapi percaya ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW. maka ini juga disebut sebagai aliran sesat yang keblinger. Dan ajaran-ajaran lain yang telah menyimpang dari aturan Islam yang telah baku (Qat’i).

Menurut KH Miftah Faridl, suatu tindakan dikategorikan sesat apabila pelakunya menggunakan nama Islam tapi ajaran yang dianut dan disebarkannya tidak sesuai dengan ajaran pokok Islam yang prinsip. Misalnya, mereka tidak percaya dengan wajibnya shalat lima waktu, atau mereka tidak percaya pada As-Sunah (Hadis) sebagai salah satu sumber hukum Islam.

Faktor penyebab

Faktor penyebab munculnya aliran sesat antara lain karena dangkalnyaakidah dan pengetahuan sebagian umat Islam. Faktor lain karena ada sebagian umat Islam berpikiran liberal dan menganggap Islam boleh diinovasi sesuka hati mereka. Selain itu, bukan tak mungkin ada kelompok yang sengaja ingin mengacaukan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Pendangkalan akidah umat Islam nampaknya terus disodorkan oleh kalangan yang tak suka dengan berkembangnya Islam. Mereka misalnya, membuat orang mulai tidak percaya sepenuhnya pada Al Quran. Ada pulayang sengaja melakukan gerakan inkarus sunnah, mengingkari kebenaran Hadis. Mereka hanya menggunakan Al Quran sebagai landasan kehidupan beragamadan menolak Hadis.

Ironisnya, berbagai aliran ini terus berkembang dan menyebut kegiatannya sebagai gerakan dan pembaruan Islam. Padahal, mereka sesungguhnya telah terjebak ke dalam kesesatan.

Solusi

Semakin maraknya aliran sesat di berbagai tempat sangat meresahkan masyarakat. Para ulama dan umara kiranya perlu bersikap dan bertindak lebih tanggap mengantisipasi keadaan sebelum terlambat. Ulama dan umara diharapkan tidak tinggal diam bila mengetahui keberadaan suatu ajaran agama yang nyleneh. Artinya, perlu memberikan tuntunan dakwah dan petiegakan hukum yang tegas terhadap para pembawa ajaran dan aliran sesat itu. Jangan dibiarkan berkembang dan membuat masyarakat resah sekaligus juga bisa menimbulkan ketidakstabilan masyarakat. Masyarakat yang resah bisa saja mengambil tindakan sendiri. Kericuhan dan kekacauan massa bisaterjadi tiba-tiba.

Penguatan akidah umat juga menjadi point penting untuk menangkal tersebarnya aliran sesat ini. Mudahnya mereka terjebak ke dalam aliran sesat adalah lantaran lemahnya akidah mereka dan minimnya pengetahuan Islam yang mereka miliki, sehingga para penyebar aliran sesat begitu gampang memperdayakan mereka dengan dalih agama untuk menyesatkannya. (amanah online)

Sufandi Maruih

Risiko Sempalan Yang Nyeleneh


Selama dua tahun belakangan ini berbagai ajaran / aliran sesat muncul di berbagai daerah di tanah air.
  1. Pada Agustus 2004, diketahui ada kasus tarekat beraliran sesat di Lombok Barat, NTB, Dengan alasan ibadah, pimpinan tarekat boleh menggauli santriwatinya dengan seizing suaminya,


  2. Pada Oktober 2004, kasus di Desa Dukuhlor, Kabupaten Kuningan, ada tiga orang pemuda mengaku kelompoknya bias bertemu langsung dengan Tuhan tanpa harus melakukan ibadah fardhu. Mereka ini menyebarkan ajaran yang disebut Finalillah atau melebur dengan Allah. Mereka akhirnya ditahan pihak berwajib.


  3. Sebuah aliran sesat juga muncul di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah Di sana seorang 'ulama' muda, Zikrullah bin Ali Tatang, memprokatmirkan diri sebagai nabi baru. la mengaku bergelar Zikrullah Aulia Allah. 'Nabi Baru' ini menggunakan masjid tua sebagai pengganti Ka'bah untuk menunaikan ibadah haji. Ia juga mengganti syahadat. Sang 'nabi' palsu pun akhirnya digelandang ke kantor polisi.


  4. Pada Februari 2005, masyarakat Pontianak diramaikan oleh adanya sekitar 86 orang yang telah dibaiat kelompok pimpinan mereka dan menyakini ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW Nabi yang mereka sebut-sebut itu tak lain adalah 'nabi' Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India. MUI Sintang, kemudian menyebut mereka sebagai aliran sesat.


  5. Pada Maret 2005 terjadi pembakaran rumah mtlik Abah Aziz, di Dusun Bayan, Kelurahan Geremeng, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah (NTB). Ia melakukan pelecehan seksuai terhadap santrinya dengan tameng agama.


  6. Pada Mei 2005 Ustadz Muhammad Yusman Roy (Gus Roy) pimpian ponpes I'tikaaf Ngadi Lelaku, Dasa Sumber Waras Timur, Malang, Jawa Timur, mengajarkan santrinya untuk shalat dalam dua bahasa. Bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Gus Yus pun akhirnya ditangkap dan diaditi.


  7. Pada 30 Mei 2005, padepokan Nurul Taubah, milik Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA), di Desa Kerampilan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Jawa Timur, dihancurkan oleh massa sekitar seribu orang. Ribuan orang di sekitar padepokan tersebut marah lantaran padepokan yang dinilai menyebarkan aliran sesat itu tak kunjung ditutup oleh pemerintah setempat. Tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. tapi bangunan padepokan pimpinan Muhammad Ardi Husein hancur dan nyaris rata dengan tanah.


  8. Pada 3 Juli 2005 kasus di Majlis Zikir Musyarofah (MZM), Bekasi. Pimpinan MZM, Syekh Mautana Ibrahim, dituduh/diduga melakukan pelecehan seksuai terhadap tujuh jamaah wanita di majelisnya. MZM juga dituding melakukan sumpah (baiat) terhadap setiap jamaahnya untuk tunduk kepada pimpinan MZM Hingga akhirnya masyarakat sekitar menyerbu majelis tersebut.

Khutbah Rasulullah SAW di Ghadir Khum

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Puja dan Puji Bagi Allah SWT
imageSegala puja dan puji hanya bagi Allah SWT yang begitu tinggi dalam ke-Esaan-Nya, dan yang begitu dekat dalam kesendirian-Nya. Maha Agung dalam kekuasaan-Nya dan Maha besar dalam kekokohan-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu sementara Dia tetap pada derajat-Nya. Semua makhluk ciptaan-Nya tunduk dibawah kekuasaan dan hujjah-Nya. Ia senantiasa disyukuri dan dipuji. Ia memiliki keagungan yang abadi. Ia yang memulakan dan Ia pula yang akan mengembalikan, dan semua perbuatan akan kembali kepada-Nya.

Dialah pencipta langit yang tinggi, penghampar bumi yang luas dan keduanya itu takluk dibawah kekuasan-Nya. Ia Maha Kudus dan Suci, pembimbing bagi Malaikat dan ruh, pemberi karunia atas semua ciptaan-Nya dan bersifat lembut atas semua makhluk-Nya. Setiap pandangan mata berada dibawah kontrol-Nya, sementara mata-mata itu tak dapat melihat-Nya.

Ia maha Mulia dan Lembut, rahmat-Nya yang luas meliputi segala sesuatu dan semuanya mendapat anugerah nikmat-Nya. Ia tidak tergesa-gesa dalam memberikan sanksi kepada hamba-hamba-Nya dan tidak pula bersegera dalam menyiksa mereka yang berhak mendapatkan siksa.

Ia mengetahui segala rahasia, mengerti segala isi hati dan bagi-Nya tak ada sesuatupun yang tersembunyi serta tak sedikitpun ada kesamaran bagi-Nya. Ia meliputi segala sesuatu, menundukkan, mengalahkan dan menguasai segala-galanya. Tak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Dialah Pencipta sesuatu tatkala tak ada sesuatupun, Abadi, Hidup, Penegak Keadilan, tak ada tuhan selain Dia, Maha Mulia dan Bijaksana.

Dia Maha Agung untuk dijangkau oleh pandangan mata, sedang Ia menjangkau segala pandangan. Maha lembut lagi Maha mengetahui. Tak ada satupun makhluk-Nya yang mampu menggapai sifat-Nya, tak seorangpun dapat mengetahui seluk beluk-Nya, baik yang lahir maupun yang batin, kecuali apa yang Ia tunjukkan akan diri-Nya sendiri.

Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang kesucian-Nya memenuhi masa, yang cahaya-Nya meliputi keabadian, yang menjalankan urusan-Nya tanpa musyawarah kepada siapapun, tak ada sekutu dalam takdir dan ketentuan-Nya dan tak perlu penolong dalam pengaturan-Nya.

Dialah yang membentuk ciptaan-Nya tanpa contoh, membuatnya tanpa bantuan siapapun, dan tanpa beban pikiran sebelumnya. Semua Ia adakan hingga terwujud, Ia ciptakan hingga menjadi tampak. Dialah Allah yang tiada tuhan kecuali hanya Dia, kokoh ciptaan-Nya, indah buatan-Nya, Maha Adil dan tak berbuat zalim dan Dialah Maha Mulia yang semua urusan kembali pada-Nya.

Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang karena keagungan-Nya merunduklah segala sesuatu, yang karena kudrat-Nya menyerahlah segala keberadaan, dan yang karena haibah-Nya tunduklah segala-galanya.

Dialah Raja Diraja, Penggerak semua planet, penunduk matahari dan rembulan, dimana semua itu beredar sampai batas waktu tertentu, memasukkan malam pada siang, dan memasukkan siang pada malam dan semua itu berjalan dengan begitu cepatnya.

Dialah yang memecahkan setiap yang keras dan membangkang, menghancurkan setiap setan yang menentang. Dialah yang tak punya lawan dan sekutu. Esa dan berdiri sendiri. Tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak satupun yang menyamai-Nya. Dialah Tuhan yang Esa, Rab yang Mulia. Ketika Ia ingin, maka Ia lakukan, dan ketika Ia berkehendak maka tertentukanlah segala ketetapan, serta ketika Ia mengetahui maka tertentukanlah segala bilangan.

Dialah yang mematikan dan menghidupkan, membuat kemiskinan dan mendatangkan kekayaan, membuat tawa dan tangisan, mendekatkan dan menjauhkan, mencegah dan memberi. Bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan ditangan-Nya lah segala kebaikan, serta Dia lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dialah Tuhan yang memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam, tiada tuhan selain-Nya, yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun, mengabulkan doa, melipat gandakan pemberian, mengetahui bilangan hembusan nafas jin dan manusia. Tak ada satu perkarapun yang sulit bagi-Nya.

Jeritan hamba-hamba-Nya tak membuat-Nya terganggu, tak pernah merasa lelah dengan permintaan paksa dan rengekan hamba-hamba-Nya, senantiasa melindungi hamba-hamba-Nya yang saleh, memberikan taufik bagi hamba-hamba-Nya yang beruntung, dan memimpin kaum mukminin.

Dialah Tuhan semesta alam, yang berhak dan layak untuk selalu dipuji dan disyukuri oleh setiap makhluk ciptaan-Nya, dalam segala keadaannya. Aku selalu bersyukur kepada-Nya, baik dalam keadaan senang atau susah, dalam keadaan suka maupun duka. Aku beriman kepada-Nya dengan sepenuh keyakinan, begitu pula kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.

Aku mendengar dan mentaati segala perintah-Nya serta bersegera melaksanakan segala apa yang diridhai-Nya. Akupun pasrah dan menyerah kepada segala ketentuan-Nya demi mentaati-Nya, dan aku takut akan siksa-Nya. Karena Dialah Allah yang tak satupun dari hamba-hamba-Nya yang bisa merasa aman dari incaran-Nya, sekalipun tidak perlu khawatir terhadap kezaliman-Nya (karena Allah tidak akan pernah melakukannya).

Perintah Ilahi Tentang Satu Perkara Penting
Aku berikrar diri kepada-Nya dengan penghambaan, bersaksi bagi-Nya dengan ketuhanan, dan akupun bertekad bulat untuk menjalankan segala apa yang diwahyukan kepadaku demi menghindarkan diri dari azab yang tak seorangpun dapat menghalangi dan menolakkannya dari diriku, betapapun hebat ilah dan alasannya, akibat tidak melakukan perintah-Nya itu.

Tiada Tuhan selain Dia yang telah mengabarkan dan mengancam bahwa apabila aku tidak menyampaikan apa-apa yang telah diturunkan kepadaku (sehubungan dengan masalah wilayah Ali a.s.), maka berarti aku dianggap sama sekali tidak menyampaikan risalah dan ajaran-Nya. Ia telah pula menjamin keselamatanku dari bahaya kejahatan para pendengki, dan Dialah yang Maha Mulia dan pemberi kecukupan.

Dia telah menurunkan wahyu padaku:
“Dengan asma Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Wahai Rasul, sampaikanlah (kepada manusia) apa yang telah diturunkan padamu dari Tuhanmu. Dan (ketahuilah) apabila engkau tidak melaksanakannya (masalah wilayah Ali itu), maka berarti engkau sama sekali tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan (janganlah khawatir) Allah senantiasa menjagamu dari segala bentuk kejahatan manusia”.(al-Maidah 67)

Wahai manusia! Aku bertekad bulat untuk tidak teledor dalam menyampaikan segala apa saja yang telah Dia turunkan kepadaku, dan kini dengarkanlah baik-baik, aku akan menjelaskan sebab turunya ayat tersebut pada kalian:

Sesungguhnya malaikat Jibril a.s. sudah tiga kali turun kepadaku dan menyampaikan salam Tuhanku serta memerintahkan agar berdiri di tempat perkumpulan ini untuk menyampaikan pada kalian baik yang berkulit putih maupun yang berkulit hitam, bahwa sesungguhnya Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, washiku, khalifahku bagi umatku dan imam setelahku.

Kedudukan dia di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku. Dia sebagai pemimpin kalian setelah Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh dalam masalah ini Allah telah menurunkan sebuah ayat dalam kitab-Nya kepadaku:

“Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan Shalat dan mengeluarkan zakat sementara ia dalam keadaan rukuk”. (al-Ma'idah 55)

Ketahuilah bahwa Ali bin Abi Thalib telah mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat ketika ia sedang rukuk, demikianlah yang dikehendaki Allah SWT.

Wahai manusia! Ketika itu aku memohon pada malaikat Jibril a.s. agar Allah memaafkanku untuk tidak menyampaikan masalah penting ini pada kalian karena aku telah mengetahui betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan betapa banyaknya orang-orang munafik, orang-orang yang membuat kerusakan dan para penipu yang tidak suka kebenaran Islam yang. Ciri-ciri mereka disebutkan oleh Allah dalam kitab suci al-Quran bahwa mereka biasa mengatakan dengan lisan mereka hal-hal yang bertolak belakang dengan isi hati mereka, dan mereka suka meremehkan masalah ini padahal di sisi Allah merupakan masalah yang sangat besar. Sebab itulah kaum munafikin berulang kali menyakitiku. Mereka mengatakan bahwa aku adalah “udzun” (mendengar dan menerima setiap omongan,), mereka mengira bahwa aku ini seperti itu, karena Ali a.s senantiasa menyertaiku dan aku selalu menaruh perhatian penuh kepadanya, sehingga dengan demikian Allah SWT menurunkan ayat yang menyinggung perihal perilaku mereka tersebut:

“Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi SAWW dan mereka mengatakan bahwa Nabi itu adalah “udzun” (mempercayai semua apa yang didengar alias gampang percaya), katakanlah (kepada mereka): ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin….”. (al-Taubah 61).

Kalau saja aku mau, maka aku dapat menyebutkkan satu-persatu dari nama-nama mereka itu; dan kalau aku mau menyebutkannya dengan isyarat, maka aku mampu melakukannya; dan kalau aku mau meyebut mereka dengan tanda-tanda, maka aku juga dapat melakukannya. Akan tetapi –demi Allah– aku masih tetap sabar terhadap mereka.

Namun dengan semua ini, Allah SWT tetap tidak akan rela kepadaku sampai aku menyampaikan pada kalian apa-apa yang telah Dia turunkan berkaitan dengan hak wilayah Ali tersebut.

Lalu Rasulullah SAWW membacakan ayat berikut ini:
“Wahai Rasul, sampaikanlah (kepada manusia) apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan (ketahuilah) apabila engkau tidak melaksanakannya (masalah penyampaian wilayah Ali itu), maka berarti engkau sama sekali tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan (janganlah khawatir) Allah senantiasa menjagamu dari segala bentuk kejahatan manusia”. (al-Maidah 67)

Pengumuman Resmi Wilayah dan Imamah 12 Imam Maksum a.s.
imageWahai manusia! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT telah mengangkat untuk kalian seorang pemimpin dan imam yang wajib ditaati baik oleh kalian yang dari kaum muhajirin, maupun dari kaum anshar, juga oleh para pengikut jejak baik mereka, penduduk desa atau kota, masyarakat Ajam (non-Arab) atau Arab, yang bebas atau budak, besar atau kecil, kulit putih atau hitam, dan juga oleh semua orang yang mengesakan Tuhan. Hukum dan ketetapannya (Ali a.s. red) berlaku untuk semua orang, ucapan dan kata-katanya wajib diamalkan. Terkutuklah siapa saja yang menentangnya, dan dipastikan bahwa siapa saja yang mengikuti dan membenarkannya akan mendapatkan curahanan rahmat Ilahi dan ampunan-Nya.

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa saat ini merupakan kesempatan terakhir bagiku untuk berdiri di tempat umum ini, maka dengarkanlah baik-baik, tunduk dan taatlah pada perintah-perintah Tuhan kalian. Karena sesungguhnya Allah SWT adalah merupakan wali (Penguasa), pemimpin dan Tuhan kalian, kemudian setelah-Nya, adalah Rasul kalian, Muhammad bin Abdullah SAWW sebagai wali kalian, dan yang kini berdiri dan menghadap kepada kalian (Imam Ali a.s.). Kemudian sepeninggalku yang akan menjadi wali, pemimpin dan imam kalian adalah Ali sesuai dengan perintah Allah SWT Dan setelah Ali, keimamahan dipegang oleh anak keturunanku dari putra-putra Ali sampai kalian pada suatu hari kelak menjumpai Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada sesuaatu-pun yang halal melainan dihalalkan oleh Allah SWT, Rasul-Nya, dan para imam yang maksum, dan tidak ada sesuatupun yang haram atas kalian melainkan diharamkan oleh Allah, Rasul-Nya dan para imam maksum tersebut. Sesungguhnya Allah SWT telah memperkenalkan kepadaku segala yang halal dan yang haram. Dan apa-apa yang telah diajarkan padaku dari kitab-Nya, telah pula kuajarkan kepadanya (Ali a.s. red).

Wahai manusia! Utamakanlah Ali dari yang lainnya, ketahuilah tak ada satupun ilmu melainkan Allah SWT telah mengumpulkannya dalam diriku, dan setiap ilmu yang telah diberikan kepadaku telah aku ajarkan pada imam muttakin (pemimpin orang-orang yang takwa) Ali. Ali adalah “imam-mubin (terang/nyata)” yang telah Allah diisyaratkan dalam Surah Yasin:

“Dan segala sesuatu itu telah kami kumpulkan dalam diri imam mubin”. (Ya Siin 12)

Wahai manusia! Janganlah kalian sampai lari meninggalkan Ali dan memilih jalan sesat, janganlah kalian congkak dan membangkang wilayahnya (kepemimpinannya), karena dialah yang menunjukkan kalian pada jalan yang benar dimana ia telah mengamalkannya, dan dia pula yang menghancurkan kebatilan dan mencegah kalian dari perbuatan batil itu, serta lebih dari itu, dia tetap tegar pada jalan Allah dimana cerca-hina para pendengkinya tidak akan membuatnya gentar.

Dialah (Ali a.s.) adalah orang yang pertama kali mengimani Allah dan Rasul-Nya, tak seorangpun yang mendahului keimanannya padaku. Dialah yang telah berani mempertaruhkan nyawanya demi membela Rasulullah SAWW, dan dia pula yang selalu menyertai Rasulullah SAWW ketika tak ada seorangpun yang menyembah Allah bersama Rasulullah saat itu. Dialah yang pertama kali melakukan shalat, dan yang pertama kali menyembah Allah bersamaku. Dari Tuhan kuperintahkan kepadanya agar menggantikanku di tempat tidurku (sewaktu hijrah, red.), dan ia tidur di sana, sementara ia mengorbankan nyawanya untukku.

Wahai manusia! Utamakanlah Ali, karena sesungguhnya Allah SWT telah mengutamakannya, dan terimalah (wilayah dan imamahnya) karena sesungguhnya Allah SWT yang telah mengangkatnya.

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa dia (Ali a.s.) merupakan imam dengan ketentuan Allah SWT. Allah tidak akan menerima taubat seseorang yang mengingkari wilayahnya dan juga tidak akan mengampuni dosa-dosanya. Sungguh, Allah pasti akan melakukan demikian bagi siapa saja yang menentang perintahnya, akan mengadzabnya dengan siksa yang amat pedih selama-lamanya sampai akhir masa, maka berhati-hatilah kalian agar jangan sampai menentangnya, sebab akan berakibat bahwa kalian akan dimasukkan ke dalam neraka yang bahan bakarnya berupa manusia dan batu-batu yang, dimana semua telah disiapkan untuk orang-orang kafir.

Wahai manusia! Demi Allah, sesungguhnya para nabi dan rasul terdahulu telah memberikan kabar gembira kepadaku. Demi Allah, bahwa aku adalah penutup para nabi dan rasul, serta sebagai hujjah atas semua makhluk-Nya baik dari kalangan penduduk langit atau bumi. Siapa saja yang merasa ragu atas hal itu, maka sungguh ia telah kafir sebagaimana kafirnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Barang siapa yang ragu dengan ucapan-ucapanku itu walaupun hanya sedikit saja, maka berarti ia telah meragukan semua ucapanku. Barang siapa yang ragu pada satu imam (dari dua belas imam, red) saja, berarti ia telah ragu terhadap semuanya. Dan barang siapa yang ragu atas kami, maka tiada lain baginya kecuali api neraka.

Wahai manusia! Allah SWT telah memberikan keutamaan ini kepadaku sebagai karunia dan kebaikan-Nya atasku, tiada tuhan selain Dia, puja dan pujiku pada Nya selama-lamanya dan sepanjang masa atas segala keadaan.

Wahai manusia! Utamakanlah Ali, karena sesungguhnya ia paling utamanya manusia setelahku, baik laki-laki maupun perempuan, selama ada hari dan keberadaan. Sungguh terlaknatlah, terkutuklah dan termurkai siapa saja yang menolak dan menentang ucapanku ini. Ketahuilah bahwa sesungguhnya malaikat Jibril a.s. telah membawa berita dari Allah untukku,

Ia berkata:
“Barang siapa yang memusuhi Ali, dan tidak mau berwilayah kepadanya, maka ia akan mendapat laknat dan murka-Ku”

Maka dari itu hendaknya setiap diri melihat apa-apa yang telah dilakukannya untuk hari esok, takutlah kalian kepada Allah, jangan sampai kalian berani menentang Ali yang akan berakibat tergelincirnya kaki-kaki kalian setelah kokoh berdiri. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Ali adalah “Janbillah” (sisi Allah) sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh Allah di dalam kitab-Nya ketika menyinggung orang-orang yang menentangnya dengan berfirman:

“Agar tidak ada orang yang mengatakan : Amat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap `Janbillah`”. (surah az-Zumar: 56)

Wahai manusia! Renungkanlah al-Quran, pahamilah ayat-ayatnya, perhatikanlah muhkamatnya (ayat-ayat yang jelas maknanya), dan janganlah kalian mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat (samar). Demi Allah, tidak ada yang mampu menjelaskan bathinnya dan tidak ada yang dapat menafsirkannya untuk kalian, kecuali orang yang aku pegang tangannya ini, yang aku bawa ke atas dan aku angkat tangannya tinggi-tinggi. Aku beritakan pada kalian bahwa barang siapa yang menjadikan aku sebagai wali dan pemimpinnya, maka orang ini (Ali a.s.) sebagai wali dan pemimpinnya juga. Dialah Ali bin Abi Thalib, saudaraku dan washiku. Wilayahnya resmi dari Allah SWT sebagaimana yang telah diturunkan melaluiku.

Wahai manusia! Sesungguhnya Ali dan orang-orang suci dari keturunanku, mereka adalah “Tsiqlul-Ashghar” (mutiara kecil) sedang al-Quran merupakan “Tsiqlul-akbar” (mutiara besar), satu sama lainnya saling memberikan berita dan terdapat keserasian antara keduanya, dan kedua-duanya itu tidak akan berpisah sampai menjumpai aku di telaga Kautsar kelak. Ketahuilah mereka itu adalah orang-orang kepercayaan Allah diantara manusia-manusia, dan sebagai para hakim-Nya di muka bumi ini.

Ketahuilah, kini aku telah menunaikan tugasku, ketahuilah aku telah menyampaikan risalah-Nya, ketahuilah aku telah menjelaskannya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT telah mengataknnya, dan aku mengatakan hal ini dari Allah SWT. Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada “Amirul Mukminin” (pemimpin para mukmin) selain dari pada saudaraku ini, dan ketahuilah bahwa tidak sah (halal) bagi siapapun untuk menjadi amirul mukminin setelahku nanti, selain Ali a.s.

image


Pengangkatan Wilayah Amirul Mukminin
Kemudian setelah itu Rasulullah SAWW menepuk lengan Ali a.s. dan mengankat tangannya tinggi-tinggi. Semua ini terjadi, yakni semenjak Rasulullah SAWW menaiki mimbar, Imam Ali a.s. pun ada di mimbar itu dengan posisi lebih rendah satu tangga dari tempat Rasulullah SAWW berdiri, dimana karena wajah (kepala) Rasulullah SAWW agak miring ke arah kanan, maka seakan keduanya berdiri tegak di satu tempat.

Lalu Rasulullah SAWW mengangkat tangan Ali a.s. dengan tangannya, sehingga kedua tangan mulia itu terangkat mengarah ke langit dan disamping itu beliau menarik Ali a.s. dari tempatnya sehingga kaki Ali a.s. sejajar dengan kaki Rasulullah SAWW kemudian beliau bersabda:

“Wahai manusia! Ini adalah Ali, ia adalah saudaraku, washiku, penghimpun ilmuku, dan ia adalah khalifahku bagi umatku, yaitu orang-orang yang beriman kepadaku. Ia khalifahku dalam menafsirkan kitab Allah SWT dan yang mengajak mengamalkanya. Begitu pula ia yang mengamalkan apa-apa yang diridhai Allah, dan yang akan memerangi musuh-musuh-Nya, membela orang-orang yang mentaati-Nya dan mencegah orang-orang dari bermaksiat kepada-Nya.

Ia (Ali a.s.) adalah khalifah Rasulullah SAWW, pemimpin kaum mukminin, imam penunjuk kepada jalan-hak, memerangi kelompok Naakitsin (Jamal, red.), Qosithin (Mu'awiyah, red.) dan Mariqiin (Khawarij, red) sesuai perintah Allah SWT.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya di sisi-Ku, segala ucapan tidak akan mengalami perubahan”.

Wahai Tuhanku dengan perintah-Mu aku berkata: “Ya Allah cintailah setiap orang yang mencintai Ali, dan musuhilah setiap orang yang memusuhinya, tolonglah orang-orang yang menolong Ali, rendahkanlah siapa saja yang merendahkan Ali, laknatilah setiap orang yang mengingkari Ali, murkailah siapa saja yang menolak hak Ali.
Ya Allah, dengan jelasnya masalah ini, dan ditetapkannya Ali (sebagai imam, red.) pada hari ini, Engkau turunkan ayat-Mu yang berbunyi:
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku telah melengkapi nikmat-Ku atas kalian, dan Aku-pun rela bahwa Islam sebagai agama kalian”. (al_Maidah, 3)

“Barang siapa yang mengikuti agama selain Islam, maka ia tidak akan diterima dan pada hari akhirat kelak ia termasuk orang-orang yang merugi”.

Ya Allah! Aku menjadikan-Mu sebagai saksi, bahwasannya aku telah menyampai apa-apa yang Engkau perintahkan.

Penekanan Perhatian Ummat Pada Masalah Imamah
imageWahai manusia! Sesungguhnya Allah SWT telah menyempurnakan agama kalian dengan masalah imamah, maka barang siapa yang tidak mau mengikutinya dan tidak mengikuti orang-orang yang menggantikan kedudukannya dari keturunanku yaitu anak-anaknya, sampai hari kiamat -hari kembali kepada Allah SWT- maka semua amal ibadah mereka di dunia ini akan terhapus dan mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka kekal selama-lamanya, dan adzab mereka itu tidak akan diringankan sedikitpun serta tidak akan pernah diberikan tangguhan.

Wahai manusia! Ini adalah Ali, orang yang banyak menolongku di antara kalian, yang paling berhak menjadi penggantiku, yang paling dekat padaku dan yang paling mulia di mataku di antara kalian semua, dan sesungguhnya Allah SWT dan aku, ridha kepadanya. Tidak ada satu ayatpun tentang ridha yang turun kepadaku melainkan dia (Ali a.s.) termasuk di dalamnya, tak pernah Allah meng-khithab-i (lawan bicara, red) orang-orang beriman melainkan Dia memulainnya dengan ber-khithab kepadanya, tak satupun ayat pujian yang turun dalam al-Quran, melainkan dia (Ali a.s.) ikut serta di dalamnya. Dan Allah SWT dalam surah “Hal Ataa 'Alaal Insaan” (al-Insan, ayat 1) tidak memberikan kesaksian dengan surga kecuali untuknya. Allah tidak menurunkan surah ini untuk selainnya, dan juga, Ia tidak memuji siapapun dalam surah ini, kecuali dirinya.

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa dia (Ali a.s.) adalah penolong agama Allah SWT, pembela Rasulullah SAWW, paling bertakwa, suci, dan penunjuk orang-orang yang mendapat hidayah. Sesungguhnya nabi kalian adalah paling baiknya nabi, washi (pengganti) kalian adalah paling baiknya washi dan putra-putranya adalah paling baiknya washi.

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa sesungguhnya nasab dan anak cucu setiap nabi adalah dari diri mereka masing-masing, tapi nasab dan anak cucuku dari keturunan Ali.

Wahai manusia! Sesungguhnya iblis telah menyebabkan keluarnya Adam a.s. dari surga dengan sifat hasadnya, maka berhati-hatilah jangan sampai kalian mempunyai sifat hasad terhadap Ali yang menyebabkan amal ibadah kalian terhapus dan kaki-kaki kalian tergelincir. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Adam a.s. diturunkan ke bumi karena satu kesalahan saja, padahal beliau adalah pilihan Tuhan, lalu bagaimana dengan kalian, sedang kalian ini bukan apa-apa (dibanding dengan Adam a.s.), bahkan diantara kalian ada orang-orang yang dimusuhi Allah SWT!?

Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada yang memusuhi Ali kecuali orang yang betul-betul celaka, tidak ada yang mencintai Ali kecuali orang yang betul-betul bertakwa dan tidak ada yang mempercayai Ali kecuali orang yang betul-betul ikhlas keimanannya. Demi Allah, sesungguhnya surah “wa al-'Ashr” turun untuk keutamaan Ali:

“Demi masa, sesungguhnya semua manusia berada dalam kerugian”, kecuali Ali yang telah betul-betul beriman, melakukan amal ibadah shaleh dan rela terhadap kebenaran dan kesabaran.

Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah menjadikan Allah sebagai saksi bahwa kini aku telah menyampaikan risalahku pada kalian dan tak ada pada pundak Rasul selain dari pada menyampaikan dan menerangkan risalah.

Wahai manusia! Takutlah kalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya, dan janganlah kalian meninggalkan dunia kecuali dalam keadaan pasrah menyerah.

Keragu-raguan Kaum Munafikin
imageWahai manusia! “Berimanlah kalian kepada Allah SWT, rasul-Nya dan kepada nur yang diturunkan bersamanya, sebelum Kami (Allah) hancurkan wajah-wajah dan Kami campakkan/plintir ke belakang atau Kami kutuk sebagaimana `ashaabu-sabt`”.

Demi Allah, sesungguhnya ayat ini tidak ditujukan melainkan kepada suatu kelompok dari sahabat-sahabatku yang mereka itu aku kenali nama-nama dan keturunan mereka, hanya saja aku diperintahkan oleh Allah SWT agar menutupi mereka. Maka masing-masing orang akan mendapatkan balasan sehubungan dengan amalnya berkenaan dengan cinta dan bencinya kepada Ali.

Wahai manusia! Sesungguhnya nur itu ditetapkan oleh Allah SWT untuk diriku, kemudian untuk diri Ali bin Abi Thalib dan setelah itu pada putra-putra dari keturunannya sampai kepada penegak keadilan, al-Mahdi. Ialah yang akan mengambil hak Allah (yang terampas oleh orang-orang yang tidak berhak) dan semua hak yang mesti kembali kepada kami, karena sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan kami sebagai hujjah atas semua orang-orang yang lalai, pembenci, penentang, pengkhianat, lalim dan para perampas (wilayah kami), yang berada di seluruh penjuru alam.

Wahai manusia! Kini aku peringatkan kalian bahwa aku adalah Rasulullah dimana telah mendahuluiku para rasul sebelumku. Apakah jika esok hari aku meninggal dunia atau terbunuh, kalian akan berbalik? Ketahuilah bahwa kalau kalian berbalik, tidak akan merugikan Tuhan sedikitpun. Dan Allah SWT akan segera memberikan balasan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur dan sabar. Ketahuilah, sesungguhnya Ali adalah penyandang sifat sabar dan syukur, dan setelah itu para putranya dari keturunanku.

Wahai manusia! Janganlah kalian mengharap lebih dari aku dengan alasan kalian telah menerima Islam, apalagi dari Allah. Karena hal semacam itu akan menyebabkan amal ibadah kalian terhapus dan kalianpun akan mendapat murka dan dimasukkan ke dalam jilatan api neraka oleh Allah SWT. Sesungguhnya Tuhan kalian senantiasa mengawasi kalian.

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa nanti sepeninggalku akan ada pemimpin-pemimpin yang akan mengajak kalian ke api neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan pernah tertolong.

Wahai manusia! Allah SWT dan aku berlepas diri dari mereka.

Wahai manusia! Mereka itu, dan penolong mereka, pembela dan pengikut mereka, akan berada di dalam dasar api neraka yang paling bawah. Sungguh betapa buruknya tempat kembali orang-orang yang congkak dan sombong itu. Ketahuilah, mereka itu adalah “ashabus shahifah”, maka hendaknya masing-masing kalian memperhatikan shahifahnya (buku, red.) sendiri-sendiri.

Ket:
Perawi hadis berkata: “Ketika Rasulullah menyebutkan nama-nama “ashabus shahifah” itu, mayoritas orang-orang yang mendengarnya tidak memahami maksud ucapan beliau tersebut dan membangkitkan tanda tanya dalam hati mereka, hanya sedikit sekali orang-orang memahami maksud ucapan beliau kala itu.”

Wahai manusia! Aku amanatkan kekholifaan sebagai imamah dan warisan ini kepada keturunanku sampai hari kiamat, dan aku telah sampaikan segalanya sesuai dengan yang diperintahkan kepadaku, sehingga hal itu menjadi hujjah baik bagi orang yang hadir maupun yang tidak hadir, bagi yang sudah lahir maupun yang belum lahir. Oleh karena itu, hendaknya orang yang hadir menyampaikan (hal ini) kepada orang yang tidak hadir, dan seorang ayah menyampaikannya kepada anaknya hingga hari kiamat tiba.

Tidak lama lagi, sepeninggalku, mereka-mereka itu akan merebut imamah ini (dari keturunanku) dengan paksa dan menjadikannya sebagai sistim kerajaan. Semoga Allah melaknat para perampas (imamah ini). Pada saat itulah Dia akan menimpakan kepada kalian apa-apa yang mesti ditimpakan, dan mengirimkan kepada kalian api dan timah panas, sementara kalian tidak akan mampu menghindarinya.

Wahai manusia! Allah azza wa jalla tidak akan meninggalkan kalian sendirian. Dia yang akan memisahkan orang yang baik dari yang jahat, dan Dia tidak akan memberi tahu kalian tentang alam ghaib.

Wahai manusia! Tidak ada sebuah negara yang makmur yang penduduknya mendustakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan kecuali Ia akan memusnahkannya sebelum kiamat tiba dan menundukkannya di bawah pemerintahan Imam Mahdi, Dan Dia (Allah) akan memenuhi janji-Nya ini.

Wahai manusia! Orang-orang sebelum kalian telah binasa. Allah yang telah membinasakan mereka, dan Dialah yang akan membinasakan orang-orang masa mendatang. Allah berfirman:
“Apakah bukan Kami yang telah membinasakan orang-orang zaman dahulu, kemudian Kami ikutkan orang-orang lain ke dalam mereka? Begitulah kami memperlakukan orang-orang yang berdosa. Celakalah pada hari itu para pendusta”.

Wahai manusia! Allah telah menurunkan perintah dan larangan-Nya untukku, dan akupun mengajarkannya kepada Ali, sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Dan pengetahuan tentang perintah dan larangan ini ada di sisi-Nya. Dengan ini, dengarkanlah perintahnya (Ali a.s.) sehingga kalian selamat, dan taatilah dia sehingga kalian mendapat petunjuk. Terimalah larangannya, sehingga kalian berada di jalan yang benar, dan berjalanlah menuju tujuannya. Jangan sampai jalan-jalan yang asing (lain dari ajaran Nabai SAWW) menyelewengkan kalian dari jalannya.

Pengikut Ahlul Bait a.s.dan Musuh Mereka
Wahai manusia! Aku adalah jalan Allah yang lurus dimana Ia telah memerintahkan kalian untuk mengikutinya; Kemudian Ali setelah aku; Kemudia putera-puteraku dari keturunannya sebagai imam pemberi hidayah dan petunjuk. Mereka akan menunjukkan jalan kebenaran dan dengan pertolongan Allah akan bertindak dengan penuh keadilan.

Setelah itu beliau membaca surah Al-fatihah hingga selesai, kemudian melanjutkan khotbahnya seraya bersabda:

Surah ini turun berkenaan denganku, dan demi Allah, turun (juga) berkenaan dengan mereka (para imam). Secara umum surah ini mencakup mereka dan secara khusus berkenaan dengan mereka. Mereka adalah para kekasih Allah yang tidak pernah merasa takut dan sedih. Ketahuilah bahwa hizbullah (tentara Allah) pasti akan menang.

Ketahuilah bahwa para musuh mereka adalah orang-orang bodoh yang sesat dan saudara-saudara setan. Mereka dengan segala kesombongan saling tukar menukar kebatilan di antara mereka.

Ketahuilah bahwa para pecinta mereka (Ahlul bait) adalah mereka yang disinyalir oleh Allah dalam kitab-Nya dengan firman-Nya:
“Kamu (Muhammad) tidak akan mendapati umat yang beriman kepada Allah dan hari akhir, yang mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka (para penentang tersebut) adalah ayah, anak, saudara atau kerabat mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang telah ditetapkan iman di hati mereka oleh-Nya”.

Ketahuilah bahwa para pencinta mereka (ahlul Bait) adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezaliman, akan merasa tentram dan aman, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Ketahuilah bahwa para pecinta mereka (ahlul Bait) adalah orang-orang yang beriman dan tidak pernah ragu.

Ketahuilah bahwa para pecinta mereka adalah orang-orang yang akan masuk surga dengan penuh ketenangan dan keselamatan, dan para malaikat datang menjumpai mereka seraya berkata:
“Kesejahteraan atas kalian. Kalian telah suci. Masuklah ke dalam surga untuk selama-lamanya”.

Ketahuilah bahwa para pencinta mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan surga dan di sana mereka akan dianugerahi rizki tanpa perhitungan.

Ketahuilah bahwa para musuh mereka (Ahlul Bait) adalah mereka (yang telah dijanjikan) untuk masuk kobaran api neraka.

Ketahuilah bahwa para musuh mereka adalah orang-orang yang akan mendengar jeritan ketakutan dari neraka jahannam yang mendidih dan melihat kobaran apinya.

Ketahuilah bahwa para musuh mereka adalah orang-orang yang disinyalir oleh Allah dalam firman-Nya :
“Setiap kali ada kelompok yang masuk neraka, mereka akan melaknat teman-teman senasib mereka……”.
Ketahuilah bahwa para musuh mereka adalah orang-orang yang termaktub dalam firman Allah :
“Setiap kali satu kelompok dicampakkan ke dalam neraka, para penjaga neraka akan bertanya kepada mereka: “Apakah tidak datang pemberi peringatan kepada kalian?”. Mereka menjawab: “Telah datang kepada pemberi peringatan, tapi kami mendustakannya dan kami katakan kepadanya bahwa Allah tidak pernah menurunkan sesuatu (perintah-Nya), dan kamu berada dalam kesesatan yang nyata”, ….Ingatlah, kecelakaan bagi penghuni neraka sa'ir”.

Ketahuilah bahwa para pecinta mereka (Ahlul Bait) adalah orang-orang yang takut kepada Allah sekalipun mereka dalam kesendirian (sepi), dan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Wahai manusia! Betapa bedanya antara kobaran api dan pahala besar?!
Wahai manusia! Musuh kami adalah orang yang dicerca dan dilaknat Allah, dan pecinta kami adalah orang yang dipuji dan dicintai oleh-Nya.
Wahai manusia! Aku adalah pembawa ancaman, dan Ali pembawa janji kenikmatan.
Wahai manusia! Aku adalah pembawa peringatan, dan Ali pemberi hidayat.
Wahai manusia! Aku adalah nabi dan Ali adalah penggantiku.
Wahai manusia! Ketahuilah bahwa aku adalah nabi dan Ali imam dan washi setelahku. Dan para imam setelah dia adalah putra-putranya. Ketahuilah bahwa aku adalah ayah mereka dan mereka akan lahir darinya (Ali a.s.).

Imam Mahdi a.s.
Ketahuilah bahwa imam terakhir adalah Mahdi. Ialah yang akan menang atas segala agama. Dialah pembalas dendam atas orang-orang zalim. Dialah penakluk dan pemusnah benteng-benteng (musuh yang kokoh). Dialah yang akan menang atas semua musyrikin dan sekali gus pemberi penunjuk (hidayah) kepada mereka.

Ketahuilah bahwa dialah yang akan membalas dendam atas setiap tetesan darah para kekasih-kekasih Allah. Dialah penolong agama Allah.

Ketahuilah bahwa dialah yang dapat memanfaatkan lautan (ilmu, red.) yang sangat dalam. Dialah yang menjadi timbangan bagi setiap pemilik keutamaan sesuai dengan kadarnya dan penjelas bagi setiap yang bodoh sesuai dengan kadarnya pula. Dialah yang telah dipilih oleh Allah. Dia adalah pewaris semua ilmu dan penakluk bagi semua pahaman.

Ketahuilah bahwa dialah pemberi berita dari Tuhannya dan yang meninggikan ayat-ayat Ilahi. Dialah orang yang mendapat petunjuk nan kokoh. Dialah yang segala pekerjaan/urusan (makhluk) diserahkan kepadanya.

Dialah yang para nabi terdahulu memberikan kabar gembira (atas kedatangannya). Dialah yang tetap ada sebagai hujjah dan tidak akan ada hujjah lagi setelahnya. Tidak ada kebenaran kecuali bersamanya dan tidak ada cahaya kecuali di sisinya.

Ketahuilah bahwa tidak akan ada orang yang menang ke atasnya dan orang yang menentangnya tidak akan tertolong. Dialah kekasih Allah di muka bumi, penegak hukum di antara makhluk-makhluk-Nya, yang dipercaya oleh-Nya, baik dalam keadaan tersembunyi atau tampak.

Bai'at pada Imam Ali
Wahai manusia! Telah kujelaskan dan kupahamkan kepada kalian dan setelah aku, Allah yang akan memahamkan kepada kalian.

Ketahuilah bahwa setelah khotbahku selesai aku akan mengajak kalian untuk menjulurkan tangan kepadaku sebagai tanda bai'at dan pengakuan atasnya (Ali a.s.), dan selanjutnya menjulurkan tangan kepadanya secara langsung.
Ketahuilah bahwa aku telah berbai'at kepada Allah dan Ali telah berbai'at kepadaku. Aku akan mengambil bai'at dari kalian dengan perintah Allah. (Ia berfirman):
“Orang-orang yang berbai'at kepadamu pada hakikatnya mereka berbai'at kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang mengurai tali bai'atnya, sesungguhnya ia telah berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya, dan barang siapa setia dengan janji yang telah diucapkannya kepada Allah, maka Ia akan menganugerahkan pahala yang besar kepadanya”.

Halal, Haram dan Kewajiban
Wahai manusia! Haji dan umrah adalah termasuk syi'ar-syi'ar Allah. (Ia berfirman):
“Barang siapa yang melaksanakan haji ke Baitullah atau melaksanakan umrah, maka tidak ada dosa baginya untuk melaksanakan sa'i antara Shafa dan Marwah”.

Wahai manusia! Kerjakanlah kewajiban haji ke Baitullah. Tiada satu keluarga yang datang mengunjungi Baitullah kecuali mereka akan merasa cukup bahagia, dan tiada satu keluarga yang meninggalkan kewajiban tersebut, kecuali mereka akan menjadi terputus dan miskin.

Wahai manusia! Tiada seorang mukminpun yang melaksanakan wuquf (di Arafah, Masy'ar dan Mina) kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu hingga hari itu, dan baru setelah hajinya selesai, amalannya (dosanya, red.) akan dihitung dari awal.

Wahai manusia! Orang-orang yang melaksanakan haji, akan ditolong dan segala biaya yang mereka keluarkan akan kembali. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang berbuat kebajikan.

Wahai manusia! Laksanakanlah haji ke Baitullah dengan agama yang sempurna, perenungan dan pengertian mengenainya, dan jangan pulang dari haji tersebut kecuali dengan taubat dan (kemauan kuat) meninggalkan dosa.

Wahai manusia! Dirikanlah shalat dan bayarlah zakat sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kalian. Jika waktu telah jauh berlalu dan kalian tidak mengerjakan atau lupa akan semua itu, Ali yang akan mengambil keputusan atas kalian dan ia akan memperjelas (hukum-hukumnya) untuk kalian. Dialah orang yang dijadikan Allah sebagai kepercayaan-Nya setelah aku. Dia dari aku dan aku dari dia.

Dia dan mereka yang berasal dari keturunanku akan menjawab setiap pertanyaan yang kalian pertanyakan dan menjelaskan setiap yang tidak kalian ketahui.

Ketahuilah bahwa halal dan haram lebih banyak dari yang aku perkanalkan kepada kalian, dan tidak mungkin kuperintahkan kalian kepada kewajiban kalian dan kularang kalian dari yang diharamkan ke atas kalian, dalam satu majlis (pertemuan). Oleh karena itu, aku diperintahkan untuk mengambil bai'at dari kalian supaya kalian menerima bahwa apa yang kuemban dari sisi Allah berkenaan dengan Amirul mukminin Ali dan para penggantinya setelahnya yang mana mereka berasal dari keturunanku dan keturunannya, adalah tugas kepemimpinan (imamah) yang hanya dimiliki oleh mereka, dimana yang terakhir dari mereka adalah Mahdi, hingga masa ia berjumpa dengan Allah (mati).

Wahai manusia! Setiap yang halal yang telah kuterangkan kepada kalian dan setiap yang haram yang kularang kalian untuk mengerjakannya, adalah hukum-hukum yang tidak pernah kulanggar dan kurubah (hukumnya sudah permanen). Ingat dan jagalah hal ini serta ingatkanlah orang lain akan halnya, dan janganlah sekali-kali kalian merubahnya.

Kuulangi pesan-pesanku. Dirikanlah shalat, bayarlah zakat dan laksanakanlah amar makruf dan nahi mungkar. Ketahuilah bahwa amar ma'ruf yang paling tinggi (derajatnya) adalah memahami pesanku ini, dan menyampaikannya kepada orang-orang yang tidak hadir di sini, dan memerintahkan mereka untuk menerima, sebagai perintah dariku, serta melarang mereka untuk menentangnya. Karena hal ini adalah instruksi dari Allah dan dariku. Sementara amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan pernah dapat dilaksanakan kecuali dengan imam maksum (ada dan bimbingannya, red.).

Wahai manusia! al-Qur'an menegaskan kepada kalian bahwa para imam setelah Ali adalah putra-putranya, dan telah kutegaskan juga bahwa mereka berasal dari keturunanku dan keturunannya. Allah berfirman dalam kitab-Nya:
“Dan Dia telah menjadikan imamah (ini) sebagai kalimah yang abadi di keturunannya”.

Dan telah kutegaskan kepada kalian (dengan sabdaku):
“Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya (al-Qur'an dan Ahlul Bait), kalian tidak akan sesat selamanya”.

Wahai manusia! Bertakwalah, bertakwalah ! Bersiap-siaplah untuk menyongsong kedatangan hari kiamat, karena Allah berfirman:
“Sesungguhnya goncangan hari kiamat, adalah sebuah peristiwa yang dahsyat”.

Ingatlah selalu akan kematian, hari kebangkitan, timbangan amal, hari perhitungan di hadapan Tuhan semesta alam, dan pahala serta siksaan. Barang siapa yang berbekal kebaikan, ia akan diberi pahala sesuai dengan kebaikannya, dan barang siapa yang berbekal dosa, ia tidak akan mendapat bagian di surga.

Bai'at Resmi
Wahai manusia! Tidak sepantasnya kalian hanya dengan sekali menjulurkan tangan dan dalam satu waktu (untuk berbai'at denganku). Tapi Allah telah memerintahkan aku untuk mengambil pengakuan dari mulut kalian tentang apa yang telah kusampaikan berkenaan dengan Ali Amirul mukminin dan para imam yang akan datang setelahnya dan berasal dari keturunanku dan keturunannya, sebagaimana telah kusampaikan bahwa putra-putraku berasal dari keturunannya.

Dengan ini, ulangilah apa yang kuucapkan ini:

“Kami telah mendengar. Kami akan mentaati, rela dan menerima semua yang datang dari Tuhan kami, dan anda (Rasulullah SAWW) telah menyampaikan (kepada kami) tentang tugas keimamahan Ali Amirul mukminin dan para imam yang berasal dari keturunannya. Kami berbai'at kepada anda berkenaan dengan perkara ini dengan hati, lidah, dan tangan kami. Dengan memegang teguh keyakinan ini kami hidup, dengan membawa keyakinan ini kami akan meninggal dunia, dan bersama keyakinan ini pula pada hari kami dibangkitkan (kiamat). Kami tidak akan merubah, ragu dan mengingkari (hal itu). Dan kami tidak akan mengingkari janji ini. Anda (Rasul) telah menasihati kami akan hal-hal yang berkenaan dengan Ali Amirul mukminin dan para imam yang berasal dari keturunan anda dan keturunannya, yaitu Hasan dan Husain serta para imam yang telah ditentukan oleh Allah setelah mereka berdua. Kami telah berbai'at kepada mereka dengan hati, jiwa, lidah dan tangan kami. Dimana setiap orang yang mampu berbai'at dengan menggunakan tangannya, maka ia lakukan hal itu, dan jika tidak, cukup dengan berikrar dengan lisannya. Kami tidak pernah berpikir untuk merubah janji ini dan semoga (berkenaan dengan hal ini) Allah tidak pernah melihat keraguan di hati kami.

Kami, sesuai perintahmu, akan menyampaikan perkara ini kepada sanak saudara kami, baik yang dekat maupun jauh. Dan berkenaan dengan ini kami menjadikan Allah sebagai saksi. Dia cukup sebagai saksi kami, dan anda juga saksi atas ikrar kami ini”.

Wahai manusia! Tahukah kalian apa yang kalian katakana ini? Sesungguhnya Allah mengetahui setiap suara dan batin seseorang. Dengan ini, barang siapa yang mendapat petunjuk, itu akan menguntungkan dirinya, dan barang siapa yang sesat, ia akan rugi sendiri. Barang siapa yang berbai'at, pada hakikatnya ia berbai'at kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka (para pembai'at).

Wahai manusia! Berbai'atlah kepada Allah, aku, Ali Amirul mukminin, Hasan, Husain dan para imam (yang berasal) dari keturunan mereka di dunia dan akhirat. Berbaiatlah dengan imamah yang ada di tangan mereka. Allah akan membinasakan para pengkhianat bai'at dan merahmati orang-orang yang setia dengan bai'atnya. Barang siapa yang mengingkari bai'atnya, hal itu akan merugikan dirinya, dan barang siapa yang setia atas bai'atnya, Allah akan menganugerahkan pahala yang besar kepadanya.

Wahai manusia! Ulangilah apa yang telah kuucapkan, ucapkanlah salam kepada Ali sebagai Amirul mukminin dan ucapkanlah: “Kami telah mendengar dan akan mentaatinya. Ya Allah, kami mohon pengampunan dari-Mu, dan kepada-Mu kami akan kembali”.

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kami (untuk mengakui imamah ini). Jika Ia tidak menganugerahkan petunjuk-Nya, niscaya kami tidak akan mendapat petunjuk”.

Wahai manusia! Keutamaam-keutamaam Ali bin Abi Thalib di sisi Allah yang telah Ia turunkan di dalam al-Qur an, tidak dapat kusebutkan dalam satu pertemuan ini. Dengan demikian, setiap orang yang memberitahukan hal itu kepada kalian dan ia memang tahu hal itu, benarkanlah dia.

Wahai manusia! Barang siapa yang mentaati Allah, Rasul-Nya, Ali dan para Imam yang telah kusebutkan, maka ia telah mencapai kebahagiaan yang luar biasa.

Wahai manusia! Barang siapa berlomba-lomba dan lebih dahulu berbai'at kepadanya, dan menerima wilayahnya, serta mengucap salam kepadanya sebagai Amirul mukminin, maka ia adalah termasuk orang-orang yang menang, dan hidup sejahtera di dalam kebun-kebun kenikmatan.

Wahai manusia! Katakanlah sesuatu yang dengannya Allah ridha terhadap kalian. Jika kalian dan semua orang yang ada di muka bumi ini menjadi kafir, kalian tidak akan dapat mendatangkan sedikitpun kerugian kepada Allah.

Ya Allah, demi apa yang telah kusampaikan dan perintahkan, ampunilah (dosa-dosa) semua mukminin, dan timpakanlah kemurkaan-Mu ke atas para pengingkar. Segala puji hanya milik Tuhan semesta alam.

Sumber sanad Hadis Al-Ghadir Menurut Ahlul Bayt
Tidak ada satu hadispun di kalangan muslimin yang memiliki riwayat yang dimiliki oleh hadis al-Ghadir, dan peristiwa yang terjadi berkenaan dengannya. Sanad hadis al-Ghadir sudah tentu sampai pada batas mutawatir dan dalam jumlah yang sangat banyak.

Puluhan jilid buku telah ditulis hanya demi menjelaskan sanad hadis al-Ghadir. Khothbah al-Ghadir dan peristiwa penting ini dalam sejarah Islam memiliki seratus dua puluh ribu saksi dan pendengar, dan setiap orang dari mereka, menukil peristiwa tersebut dalam jumlah yang layak diperhatikan. Dengan adanya tekanan dan ancaman dari pihak penguasa waktu itu, mereka masih tetap menukil bagian-bagian penting dari khotbah tersebut. Para ilmuwan, tokoh politik, dan sejarah Islam, sering kali dalam berbagai kesempatan, memaparkan peristiwa tersebut dan menjadikannya sandaran.[islamalternatif.net]

Jangan terLarut oLeh perasaan

Ada benarnya kLo wanita menggunakan 1 akaL & 9 perasaannya.
Mengapa saya katakan demikian???
Coz wanita itu cepat merasa iba & terenyuh hatinya terhadap orang lain.
Coba anda pikir,sapa sih yg sering mnjadi korban penipuan???
Saya rasa pastiLah wanita,coz terLaLu cpat percaya terhadap keadaan orang Lain.
Perasaan ituLah yang terkadang dimanfaatkan sebagian pihak tuk mencari keuntungan.

Wahai kaum wanita berhati-hatiLah terhadap itu semua.
Bukan hanya 1 atau 2 orang kejadian yg saya dengar.
Banyak sekaLi pihak2 tak bertanggung jawab memanfaatkan tipe perasanya wanita tuk mengecohkannya.
Yg sering saya dengar daLam kasus penipuan materi(materi)

So,,,,
Hati2 ya...

Sabtu, Oktober 18

Sahabatku, Jalan ini Bukan Mudah. Aku Bersamamu

Sahabat..

Aku mencintaimu kerna Rasulullah memerintahkan aku mencintaimu. Ya,tidak beriman seseorang itu sehingga dia mencintai saudaranya sepertimana dia mencintai dirinya sendiri.


Sahabatku yang sangat aku cintai..

Sungguh,jalan yang kita lalui ini bukan jalan yang indah dan mudah. Jalan ini matlamatnya cantik dan mengkagumkan.Tapi, sungguh tidak dapat aku janjikan kepadamu jalan ini akan senang kau lalui. Bukankah sejarah membuktikannya, haq yang ingin dibawa tentu sekali akan ditentang.


Sahabat..


Bukankah dalam kita berdiskusi, seringkali kita ingatkan pejuang yang telah lama terkorban dulu? Sheikh Hassan Al Banna,ditembak di pasar. Kerna apa? Kerna dia membawa yang haq! Syed Qutb,nyawanya tercabut menemui Rabb nya di tiang gantung? Kerna apa? Kerna dia membawa yang haq. Sheikh Ahmad Yassin dibunuh dengan misil yahudi laknatullah di hadapan masjid di subuh yang hening. Kerna apa? Kerna dia juga membawa yang haq!


Amanah ini untuk kita,sahabatku.Amanah ini untuk orang seperti kalian. Bukanlah aku ingin menggoyahkan semangat wajamu dan bahkan tidak sesekali. Tetapi sahabat,yang pasti ingin aku ingatkan janji Allah terhadap orang yang menolong agamanya, Allah pasti akan membantu urusannya. Aku ingin ingatkanmu kasih sayangNya dan rahmatNya terhadap hamba yang diredhai Nya. Bukankah senang nanti bila Allah tanyakan kepada kita: Apa yang kau gunakan masa mudamu dan aku dan kau serentak menjawab :Ya Tuhanku, Ya Rabb, masa mudaku dan masa tuaku adalah aku letakkan pada jalanMu. Adalah untuk Kau. Hanya untuk hidup dalam redhaMu walau kami ditekan. Untuk hidup dalam cinta kami kepada Mu.


Sahabat...

Peluru, tali gantung, pedang yang tajam, bahkan tekanan yang kuat dari pengalaman kehidupan sememangnya boleh melemahkan sesiapa sahaja. Tapi bukan engkau. Engkau dibina dengan tarbiyah. Dihiasi keindahan akhlak. Dilahirkan sebagai pendukung agama ini. Biar siapa sahaja pun engkau, biar apa sahaja kata orang,kau terus menguatkan langkah menyusur jalan in. Aku yakin,kerna kau sahabatku.


Sahabatku yang dikasihi..

Tidak dapat aku janjikan kesenangan dan kemewahan mengikut jalan ini. Tidak dapat aku berikan nama dan pangkat. Tapi akan ku tawarkan yang lebih baik dari segala itu. Akan kuberikan doaku semoga kau teguh dalam jalan ini .Akan ku bersama kau melangkah membawa haq dalam jalan ini. Akan aku luka dan berdarah bersama kau. Kerna kita saudara yang saling mencintai kerna Nya.

Sungguh aku bersama mu.


Tulus,

Sahabatmu tercinta